Selasa, 12 Desember 2017

Sebab UIN Berdiri, Tukang Bakso Ini Memilih Pergi


taken by Sri Mulyati

TANGERANG SELATAN – Tercermin raut wajah yang tegar dengan dibalut rasa lelah dan letih. Mencoba bertahan demi sang buah  hati, mencoba tegar dalam terpaan ujian yang kian hari kian menjadi. Tetap bertahan dan menggantungkan hidup pada sebuah  warung bakso kecil nan sederhana. Sore itu, wanita 43 tahun ini yang biasa dipanggil Ayi sedang sibuk melayani pembeli di warung baksonya di Jl. Tarumanegara, Pisangan, Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan, Banten. (01/11).

Tak banyak kata yang terlontar dari mulut ibu tiga anak ini, beberapa pertanyaan yang saya lontarkan dijawab seadanya.
“saya memulai usaha ini sudah lumayan lama, berpindah dari tempat satu ketempat lain”. Ujar Ayi mengawali perbincangan kami sore itu.  
Sudah beberapa tahun Ayi dan keluarga berjualan bakso seperti ini, menyewa kios satu ke kios lain. Hingga tiga tahun belakangan ini Ayi dan keluarga bertahan di kios yang saat ini tempati, lumayan cukup lama dari yang sebelum-sebelumnya. Tepatnya di depan Kampus UIN Fakultas Adab dan Humaniora.
Keluhannya pun terbongkar. Saat ia berkata bahwa sewa kios tahun ini naik secara drastis, hal ini menjadi beban tambahan bagi Ayi dan Suami, tak lupa beban fikiran pun ikut timbul karena pengeluaran dengan pemasukan yang tak sepadan.
“sebenarnya bulan Oktober kemarin kontrak sewa kios saya akan habis, dan mulai bulan ini sewa kios naik cukup tinggi, dari 13 juta/tahun menjadi 25 juta/tahunnya, saat ini saya dan suami mulai bingung karena pengeluaran keluarga saya saat ini sedang banyak-banyaknya”. Jelas Ayi sambil melirih.
Sewa kios ini naik drastis bukan karena harga sewa pemilik tanah yang naik, melainkan karena deretan kios-kios ini berada tepat didepan kampus UIN Fakultas Adab dan Humaniora yang telah selesai dalam pembangunan.
Text Box: Foto: sri mulyati“jika dilihat, sekarang ini memang sudah mulai ramai karena adanya Kampus UIN tiga, terlebih jika dibandingkan dengan kondisi dulu yang masih terbilang jarang orang yang lewat daerah sini. Tapi sebenarnya sekarangpun omset penjualan kita masih biasa-biasa saja, naik turun tergantung kondisi. Mungkin penyewa tanah atau pemilik kios ini mengira bahwa warung didepan Kampus akan ramai pembeli, padahal tidak seperti itu”. Elak Ayi menerangkan maksudnya.
Pemilik kios seperti tak mau tahu akan hal tersebut, padahal jika dihitung harga jual satu porsi bakso pun terbilang cukup terjangkau, hingga tak dapat menutupi segala pengeluaran yang Ayi dan Suaminya tanggung.
“belum lagi tiga anak saya harus bayar uang SPP setiap bulannya, karena kebetulan anak-anak saya sekolah di sekolah swasta, ditambah lagi dengan uang sewa rumah tiap bulannya, itu belum termasuk uang listik dan air, dan uang modal setiap harinya. Bisa dihitung pengeluaran saya setiap hari dan bulannya cukup besar, bagaimana lagi jika ditambah dengan biaya uang sewa kios bulan ini yang telah naik melonjak drastis”. Ujarnya.
Ayi fikir dengan selesainya pembangunan  Kampus tiga UIN ini akan membawa kemajuan bagi usahanya serta perekonomian keluarganya. Namun, hal itu seketika musnah setelah keputusan baru dari pemilik kios itu turun.
Hal ini pula bukan hanya dirasakan oleh Ayi saja sebagai salah seorang penjual yang mengisi kios depan Kampus tiga UIN, penyewa lainnya pun merasakan hal yang sama, keluhan serta kegelisahan pun ikut menyelimuti hati dan fikiran mereka karena disatu sisi merasa sangat diberatkan dengan keputusan pemilik untuk menaikan harga sewa kios ini. Terlebih para penyewa kios tergolong keluarga dengan kondisi perekonomian yang kurang beruntung.
Putus asapun kadang terlintas dalam benak Ayi, karena lika-liku hidup yang cukup mencekik. Namun, disisi lain ia pun harus tetap bertahan demi anak dan keberlangsungan hidup keluarganya.
Saat ditanya perihal kelanjutan sewa kios ini Ayi hanya dapat menjawab, “sepertinya saya tidak akan melanjutkan sewa  kios ini lagi, karena saya tidak kuat dengan biaya sewanya, lebih baik saya mencari tempat baru atau pindah ke tempat dulu saya pertama berjualan bakso”. Ujarnya kembali.
Mencari tempat baru, dengan meninggalkan langganan membuat Ayi dan Suami sebenarnya berfikir ulang. Namun kembali lagi, mereka percaya bahwa “rejeki setiap orang tidak akan tertukar” ujarnya yakin.
Sorot matanya seolah mengisyaratkan sebuah harapan dan keyakinan. Keyakinan yang kuat dari seorang ibu yang tetap berusaha menguatkan diri mencari rupiah demi rupiah. Berharap orang-orang  diatas sana mengerti dan dapat memahami begitu sulitnya bertahan dikota besar dengan hanya menggantungkan diri dari sebuah warung bakso yang tak seberapa.

Itulah kisah Ayi, si penjual bakso yang harus pergi karena sewa tempat yang melonjak tinggi, hanya karena bangunan megah kini telah berdiri didepan kios yang telah lama ia isi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Follow Us dewisrimulyati.ws