![]() |
| taken by Sri Mulyati |
TANGERANG
SELATAN – Tercermin raut wajah yang tegar dengan dibalut rasa lelah dan letih.
Mencoba bertahan demi sang buah hati,
mencoba tegar dalam terpaan ujian yang kian hari kian menjadi. Tetap bertahan
dan menggantungkan hidup pada sebuah
warung bakso kecil nan sederhana. Sore itu, wanita 43 tahun ini yang
biasa dipanggil Ayi sedang sibuk melayani pembeli di warung baksonya di Jl. Tarumanegara, Pisangan, Ciputat
Timur, Kota Tangerang Selatan, Banten. (01/11).
Tak banyak kata yang terlontar dari mulut ibu tiga anak ini, beberapa pertanyaan yang saya lontarkan dijawab seadanya.
“saya memulai usaha ini sudah lumayan lama,
berpindah dari tempat satu ketempat lain”. Ujar Ayi mengawali perbincangan kami
sore itu.
Sudah
beberapa tahun Ayi dan keluarga berjualan bakso seperti ini, menyewa kios satu
ke kios lain. Hingga tiga tahun belakangan ini Ayi dan keluarga bertahan di
kios yang saat ini tempati, lumayan cukup lama dari yang sebelum-sebelumnya.
Tepatnya di depan Kampus UIN Fakultas Adab dan Humaniora.
Keluhannya
pun terbongkar. Saat ia berkata bahwa sewa kios tahun ini naik secara drastis,
hal ini menjadi beban tambahan bagi Ayi dan Suami, tak lupa beban fikiran pun
ikut timbul karena pengeluaran dengan pemasukan yang tak sepadan.
“sebenarnya
bulan Oktober kemarin kontrak sewa kios saya akan habis, dan mulai bulan ini
sewa kios naik cukup tinggi, dari 13 juta/tahun menjadi 25 juta/tahunnya, saat
ini saya dan suami mulai bingung karena pengeluaran keluarga saya saat ini
sedang banyak-banyaknya”. Jelas Ayi sambil melirih.
Sewa kios ini naik drastis bukan karena harga sewa pemilik tanah
yang naik, melainkan karena deretan kios-kios ini berada tepat didepan kampus
UIN Fakultas Adab dan Humaniora yang telah selesai dalam pembangunan.
Pemilik
kios seperti tak mau tahu akan hal tersebut, padahal jika dihitung harga jual
satu porsi bakso pun terbilang cukup terjangkau, hingga tak dapat menutupi
segala pengeluaran yang Ayi dan Suaminya tanggung.
“belum
lagi tiga anak saya harus bayar uang SPP setiap bulannya, karena kebetulan
anak-anak saya sekolah di sekolah swasta, ditambah lagi dengan uang sewa rumah
tiap bulannya, itu belum termasuk uang listik dan air, dan uang modal setiap
harinya. Bisa dihitung pengeluaran saya setiap hari dan bulannya cukup besar,
bagaimana lagi jika ditambah dengan biaya uang sewa kios bulan ini yang telah
naik melonjak drastis”. Ujarnya.
Ayi
fikir dengan selesainya pembangunan
Kampus tiga UIN ini akan membawa kemajuan bagi usahanya serta
perekonomian keluarganya. Namun, hal itu seketika musnah setelah keputusan baru
dari pemilik kios itu turun.
Hal
ini pula bukan hanya dirasakan oleh Ayi saja sebagai salah seorang penjual yang
mengisi kios depan Kampus tiga UIN, penyewa lainnya pun merasakan hal yang
sama, keluhan serta kegelisahan pun ikut menyelimuti hati dan fikiran mereka
karena disatu sisi merasa sangat diberatkan dengan keputusan pemilik untuk
menaikan harga sewa kios ini. Terlebih para penyewa kios tergolong keluarga
dengan kondisi perekonomian yang kurang beruntung.
Putus
asapun kadang terlintas dalam benak Ayi, karena lika-liku hidup yang cukup
mencekik. Namun, disisi lain ia pun harus tetap bertahan demi anak dan
keberlangsungan hidup keluarganya.
Saat
ditanya perihal kelanjutan sewa kios ini Ayi hanya dapat menjawab, “sepertinya
saya tidak akan melanjutkan sewa kios
ini lagi, karena saya tidak kuat dengan biaya sewanya, lebih baik saya mencari
tempat baru atau pindah ke tempat dulu saya pertama berjualan bakso”. Ujarnya
kembali.
Mencari
tempat baru, dengan meninggalkan langganan membuat Ayi dan Suami sebenarnya
berfikir ulang. Namun kembali lagi, mereka percaya bahwa “rejeki setiap orang
tidak akan tertukar” ujarnya yakin.
Sorot
matanya seolah mengisyaratkan sebuah harapan dan keyakinan. Keyakinan yang kuat
dari seorang ibu yang tetap berusaha menguatkan diri mencari rupiah demi
rupiah. Berharap orang-orang diatas sana
mengerti dan dapat memahami begitu sulitnya bertahan dikota besar dengan hanya menggantungkan
diri dari sebuah warung bakso yang tak seberapa.
Itulah
kisah Ayi, si penjual bakso yang harus pergi karena sewa tempat yang melonjak
tinggi, hanya karena bangunan megah kini telah berdiri didepan kios yang telah
lama ia isi.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar